Kabeh ngerti mbok karo SAMIDI.??
Berkat Bakat dia, Bahasa NGAPAK terkenal hingga luar CILACAP, lewat dagelannya dalam CURANMOR.
berikut sedikit kisahnya..
Awal Saya menekuni dunia intertainment bermula dari ketertarikan Saya menjadi seorang penyiar radio, tahun 90-an. Saat itu saya menjadi pendengar salah satu radio di Cilacap. Melihat begitu “nikmat”nya menjadi seorang penyiar yang setiap hari terkesan bahagia dan dikenal banyak orang (artist local) membuat obsesi saya yang saat itu masih duduk di bangku STM/SMK untuk mengikuti jejak sang idola, semakin besar.
Hingga akhirnya setelah sekolah tingkat menengah atas terselesaikan, saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan informal, dengan mengikuti kursus mengenai dunia kepenyiaran di Professional College of Broadcasting (PCB) Purwokerto. Di PCB saya mendapat pelajaran mengenai bagaimana cara menjadi penyiar, memproduksi iklan radio, menjadi seorang pembawa acara, dan lain-lain selama 4 bulan.
Dialek Banyumasan atau sering disebut Bahasa Ngapak Ngapak adalah kelompok bahasabahasa Jawa yang dipergunakan di wilayah barat Jawa Tengah, Indonesia. Beberapa kosakata dan dialeknya juga dipergunakan di Banten utara serta daerah Cirebon-Indramayu. Logat bahasanya agak berbeda dibanding dialek bahasa Jawa lainnya. Hal ini disebabkan bahasa Banyumasan masih berhubungan erat dengan bahasa Jawa Kuna (Kawi).Bahasa Banyumasan terkenal dengan cara bicaranya yang khas. Dialek ini disebut Banyumasan karena dipakai oleh masyarakat yang tinggal di wilayah Banyumasan.
Awit mbrojol sing enyong krungu bapane enyong ngapak
Awit enyong bisa mlayu sing enyong krungu tanggane enyong ngapak
Awit enyong mulai sekolah kancane enyong pada ngapak
Awit enyong mulai berantem ya karena enyong ngapak
Awit enyong belajar ngaji ustade enyong ngapak
***
Tengen ngapak, kiwa ngapak…
Nduwur ngapak, ngisor ngapak…
***
Pas ibuku ngejak ning pasar pada sing dagang ngapak
Pas bapaku ditilang, polisine ya ngapak
Pas aku di strap, pak salim guru BK ya ngapak
Pas aku di sidang ning kelurahan, Pak lurah’e ngapak
***
PENCETUS BELAJAR KIMIA MELALUI PUISI DAN LAGU
Jika kita bertemu dengan seorang intelektual yang bergelar “doktor”, maka kesan pertama yang ditangkap adalah orangnya pasti serius, pinter, pendiam, dan sedikit banyak bertampang angker. Kesan itu sama sekali salah ketika kita bertemu doktor yang satu ini. Doktor Metodologi Evaluasi lulusan Pascasarjana UNY ini jauh dari kesan tersebut. Wajahnya yang sumringah, selalu tersenyum, sangat jauh dari kesan angker dan serius, meskipun segudang ilmu dikuasainya dengan sangat luar biasa. Itulah sosok Doktor Das Salirawati, M.Si, salah satu dosen Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY.
"SIKAP KREATIF DI ZAMAN EDAN"
Latar Belakang
“Tanggung jawab moral memudar”, demikian Dr. Daoed Joesoef mengawali artikelnya “Moralitas di Zaman Edan”, yang terbit di Kompas 18 Juli 2011. Sangat gamblang terpapar di depan mata: tingkah laku politisi yang saling menuduh dan mencerca, sikap para birokrat yang acuh tak acuh, ulah para pebisnis yang serba asosial dan antilingkungan, kebijakan pemerintah yang tidak merakyat dan membingungkan.
Memudarnya tanggung jawab moral menimbulkan situasi ganda yang memprihatinkan. Di satu pihak warga individual – yang mudah beringas karena merasa diabaikan nasibnya – cepat naik pitam, gampang mengamuk, dan bertindak yang serba merusak tanpa peduli akibat destruktif perbuatannya. Di lain pihak, konvergensi pola pikir masyarakat – yang berfungsi mengimbangi karakter destruktif warganya – menjadi kurang berdaya karena makin terdesak oleh unsur-unsur pembentuk pola pikir masyarakat yang divergen.
Menjelang buka puasa, Wakil Rektor III UII Ir. Bachnas, M.Sc. memberikan sedikit sambutan di depan ribuan mahasiswa baru sebelum secara resmi menutup rangkaian acara yang diselenggarakan selama dua hari tersebut. Dalam sambutannya, dosen teknik sipil UII ini menghimbau kepada mahasiswa baru sekalian untuk senantiasa membuat rencana untuk masa depan mereka “Hidup harus berplanning” ungkapnya. |
Rektor UII Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. dalam kesempatannya menyampaikan, budaya akademik akan berkembang bilamana perguruan tinggi benar-banar memiliki kebebasan akademik secara komprehensif. Mahasiswa sebagai seorang akademisi hendaknya berani menyatakan aspirasinya yang mana bisa dilakukan melaui diskusi diberbagai lembaga kemahasiswaan kampus. ”Mahasiswa hendaknya dapat menerapkan budaya berdiskusi dalam aktivitasnya dikampus, sebagai mahasiswa tentunya mempunyai sudut pandang pemikiran berbeda dalam menyikapi berbagai hal, dengan memikirkan dan memahami berbagai argumen yang masuk terlebih dahulu sebelum menentukan sikap”. |
Langganan:
Postingan (Atom)
Sing Nulis Blog Kiye
Kategori
- Berita (6)
- Ngapak (3)
- Acara (2)
- Campus Fair (2)
- Dosen (1)
Sering Diwaca
-
Selamat malam kawan-kawan SMANIC semuanya. Sebentar lagi bakal dilaksanakan event yang cukup besar dan bermanfaat buat adik-adik kelas kit...
-
Terbitkan Entri ilustrasi/google Awit mbrojol sing enyong krungu bapane enyong ngapak Awit enyong bisa mlayu sing enyong krungu tanggane...
-
Bismillah, Teman-teman pasti ingat waktu dulu ada acara di aula yang namanya CAMPUS FEST, yang diadain oleh alumnus SMAN1C. Di sana ad...
Woro-Woro
Semua isi blog ini boleh dicopy asal tidak untuk tujuan Komersil.
Terimakasih atas perhatiannya.
ttd. admin
ttd. admin
Balane Blog kiye
Sing Niliki Blog
Sman1cnangdJogja. Diberdayakan oleh Blogger.
